Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/rsjdsura/public_html/wp-blog-header.php:56) in /home/rsjdsura/public_html/wp-content/plugins/quick-chat/quick-chat.php on line 262
GEJALA POST POWER SYNDROM DAN CARA MENGATASINYA oleh Citra Hanwaring Puri, S.Psi, Psikolog – RS Jiwa Daerah Surakarta

GEJALA POST POWER SYNDROM DAN CARA MENGATASINYA oleh Citra Hanwaring Puri, S.Psi, Psikolog

GEJALA POST POWER SYNDROM DAN CARA MENGATASINYA

Pernahkah Anda merasa kecewa, bingung, putus asa atau khawatir yang berlebih ketika memutuskan untuk berhenti bekerja? Kalau jawabannya iya, Anda mungkin mengalami post power syndrome.

Post power syndrome adalah suatu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang diikuti dengan menurunnya harga diri.

“Power” pada kata post power syndrome bukan diartikan sebagai kekuasaan maupun pekerjaan. Melainkan dikonotasikan sebagai sosok yang tadinya aktif, banyak kegiatan, mendadak hilang semua sehingga timbul ketidaknyamanan. Jadi, orang-orang yang mengalami post power syndrome adalah orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan yang terjadi, sebenarnya. Dan perubahan yang tidak bisa dia terima itu adalah perubahan yang berkaitan dengan hilangnya aktivitas, hilangnya kekuasaan, hilangnya harta, dan sebagainya.

Menjalani masa pensiun ditanggapi dengan berbagai cara, ada yang merasa gembira karena terbebas dari pekerjaan yang selama ini harus selalu dipertanggungjawabkan, namun tidak jarang banyak pegawai yang merasa kebingungan akan apa yang akan dikerjakan setelah pensiun. Masa pensiun sering ditanggapi dengan perasaan yang negatif, tidak menyenangkan bahkan dipandang sebagai masa yang menakutkan. Oleh karena itu akan terkena gejala post power syndrome yaitu sindrom dari berakhirnya suatu jabatan atau kekuasaan dimana yang mengalaminya menjadi tidak bisa berpikir realistis, tidak bisa menerima kenyataan, bahwa sekarang sudah bukan pejabat lagi, bukan pegawai lagi dan sudah pensiun (Suadirman, 2001)

Sindrom ini biasanya muncul pasca pensiun, PHK, menurunnya ketenaran seorang artis atau seseorang yang memutuskan berhenti bekerja saat ia tengah berada pada posisi atau jabatan yang cukup penting.

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap sindrom ini diantaranya adalah mereka yang sangat bangga pada jabatannya, senang dihormati, senang mengatur orang lain dan selalu menuntut agar keinginan atau perintahnya dituruti.

Sehingga ketika masa kekuasaan itu berakhir, muncullah gejala post power syndrome yang merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kondisi barunya.

Meskipun bukan tergolong penyakit kejiwaan yang serius, post power syndrome perlu segera diatasi. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut akanmenyebabkan masalah kesehatan seperti darah tinggi atau depresi di kemudian hari.

Pensiun atau purnabakti akan dialami oleh siapapun yang usianya melebihi batas yang telah ditentukan atau mereka yang sengaja menghentikan kegiatan rutinitasnya. Masa itu akan datang, masa dimana seseorang akan mulai kehilangan teman kerja, teman beraktifitas, termasuk kehilangan kekuasaan dan kewenangan. Hal itu dapat menyebabkan post power syndrom

Post power syndrome merupakan sindrom pasca seseorang berhenti dari dunia kerja atau dari kekuasaannya. Post power syndrome biasanya muncul setelah seseorang turun dari jabatan atau kekuasaannya yang disertai perasaan menurunnya harga diri dikarenakan dia merasa tidak dihormati lagi dan lebih mudah tersinggung serta curiga.

Pada umumnya, orang yang mengalami post power syndrome tidak menyadari akan kondisinya. Gejala yang muncul juga bisa bermacam-macam baik gejala fisik maupun psikis. Gejala post power syndrome akan mudah muncul jika seseorang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak dimintai pendapatnya. Ini akan lebih mudah terjadi pada orang yang sebelumnya memiliki jabatan tinggi atau penting.

GEJALA

Gejala post power syndrome terbagi menjadi tiga, yakni gejala fisik, emosi dan perilaku. Secara fisik, penderita post power syndrome ditandai dengan penampilan yang terlihat lebih kuyu, tidak ceria dan sering sakit-sakitan seperti gampang terkena flu, deman dan penyakit fisik lainnya.

Sementara gejala emosi ditandai dengan penderita mudah tersinggung, lebih senang menyendiri, pemurung, lebih cepat marah dan tersinggung jika pendapat atau ucapannya tidak dihargai. Gejala lainnya seperti rasa kecewa, bingung, sedih, merasa kesepian atau merasa sendirian, takut, dan perasaan kosong.

Adapun gejala perilaku yang muncul bisa dilihat dari perubahan perilaku penderita yang cenderung lebih pendiam, pemalu atau sebaliknya malah terus menerus membanggakan kejayaan karirnya di masa lampau.

Gejala yang cenderung muncul kepada orang yang mengalami Post Power Syndrome, antara lain adalah:

Kegalauan dan kegelisahanhati ,serta rasa khawatir berlebihan menghadapi masa masa yang berada diluar zona keamanan dan kenyamanannya,dapat mendistorsi jiwa seseorang yang tidak mempersiapkan diri sedari awal. Sebenarnya terlepas dari siapapun adanya diri kita, adalah wajar ,ada rasa kekuatiran ,menghadapi masa masa pensiun. Karena pensiun,bukan hanya pemasukan uang tidak lagi berjalan seperti biasa,tetapi pensiun juga berarti,ia tidak lagi memiliki “kekuasaan” untuk “memerintah” orang lain. Bila gejala ini merambat dan menguasi dirinya,maka kegalauan dan keresahan tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi langsung atau tidak akan menebar dan mendistorsi anggota keluarga. Oleh karena itu pilihan terbaik adalah  jika kita  memasuki masa pensiun, tanpa rasa kekhawatiran yang berlebihan

CARA MENGATASI

Mempersiapkan diri sedini mungkin.dengan menanamkan di dalam hati bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Bahwa suatu waktu .suka ataupun tidak,kedudukan kita akan digantikan oleh orang lain. Tanamkanlah pada diri kita ,bahwa pensiun adalah sesuatu yang wajar yang merupakan proses alami. Yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun.Dengan jalan menerima bahwa hal tersebut adalah suatu kenyataan hidup,maka hati kita menjadi tenang.Jauh dari kerisauan memikirkan masa pensiun. mempersiapkan tabungan sebaik-baiknya/rencana investasi jangka panjang dengan resiko yang seminim mungkin. Misalnya buka buka kos-kosan, buka warung makan, kelontong atau usaha kecil lainnya. Pada masa era media sosial sekarang bisa dimanfaatkan untuk jualan online. Misal ibu-ibu yang hobi masak atau bikin kue di rumah, bisa menyalurkan hobinya tersebut dan dijual secara online melalui media facebook, instagram atau melalui status whatsapp. Selain itu bisa menyalurkan hobi jualan baju atau mungkin jilbab yang sedang trend sekarang ini. Bagi bapak-bapak bisa berbisnis tanaman, peternakan atau kuliner. Bisnis produk makanan sehat juga bisa dijadikan suatu peluang dimana gaya hidup masyarakat saat ini beralih ke gaya hidup yang lebih sehat. Apapun bisa dijadikan peluang usaha asalkan kita menjalaninya dengan senang hati dan tanpa paksaan, apalagi sesuai hobi masing-masing.

Keluarga atau orang lain yang terdekat akan sangat membantu atau mempengaruhi seseorang agar tidak mengalami post power syndrome. Hal ini karena merekalah yang lebih mengetahui kondisinya. Cara paling mudah adalah dengan terus menjalin silaturahim dengan orang-orang di sekitar, baik itu keluarga maupun tetangga. Berkumpullah dengan mereka agar kita tidak pernah merasa sendirian atau kesepian. Jika perlu bentuklah semacam komunitas dengan aktivitas yang sederhana tetapi menyehatkan jiwa raga. Seperti komunitas religi seperti pengajian atau aktivis gereja, bisa juga komunitas berdasarkan hobi.

Komunitas ini sebagian besar beranggotakan pensiunan atau purnabakti. Awalnya hanya beraktivitas pada pengajian atau tadarus saja. Namun, selanjutnya berkembang pada aktivitas lainnya seperti jalan sehat pagi, gowes religi, dan bakti sosial atau bisa juga rekreasi bersama. Bahkan ada komunitas yang terjadlin berdasarkan hobi, misalnya bernyanyi bersama atau menari/ dance, sesekali bisa juga mengadakan piknik atau rekreasi bersama sehingga rasa kesepian dan kosong karena kehilangan teman tidak akan terjadi. Mereka akan tetap merasa happy dengan hidupnya bahkan kemungkinan akan lebih menikmatinya pada saat pensiun karena beban atau tanggung jawab pekerjaan yang sudah berkurang.

Selain itu menjalin komunikasi dan “memasyarakatkan diri” dengan baik pada siapa saja tanpa memandang apakah itu selevel ataupun tidak dengan kita sehingga ketika memasuki masa pensiun, bila kita memiliki kepribadian yang baik pasti akan tetap akan dihargai dengan baik, tapi sebaliknya bila memiliki kepribadian yang tidak menyenangkan ,maka siapapun akan cuek kepada kita. Jangan pernah membanggakan diri,baik karena jabatan, maupun kekuasaan yang kita miliki,pada saat masa jaya. Janganlah kita pernah mengabaikan prinsip hidup yang satu ini bahwa segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai, tidak akan selamanya kita miliki, sehingga kelak bila waktunya memasuki masa pensiun, maka kita dengan berbesar hati dan percaya diri, berani melenggang masuk ke gelangang arena pensiunan. Hal ini akan mengatur dan mengarahkan langkah langkah kita ,sehingga kita mampu melengkapi motto : “Muda berkarya tua berdaya”

  Citra Hanwaring Puri, S.Psi, Psikolog

CARA MUDAH HINDARI POST POWER SYNDROM

Mungkin Anda juga menyukai