Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/rsjdsura/public_html/wp-blog-header.php:56) in /home/rsjdsura/public_html/wp-content/plugins/quick-chat/quick-chat.php on line 262
Orang Tua Bijak Siap Dampingi Belajar Anak Di Masa Pandemi oleh Miratun Hasanah, S.Psi., Psi. – RS Jiwa Daerah Surakarta

Orang Tua Bijak Siap Dampingi Belajar Anak Di Masa Pandemi oleh Miratun Hasanah, S.Psi., Psi.

Orang Tua Bijak Siap Dampingi Belajar Anak Di Masa Pandemi

Miratun Hasanah, S.Psi., Psi.

(Psikolog RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta)

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan dalam keberlangsungan hidup manusia, untuk memutus penyebaran virus Covid-19 pemerintah menetapkan beberapa kebijakan salah satunya adalah dalam dunia pendidikan kegiatan belajar mengajar yang seharusnya dilakukan secara tatap muka digantikan dengan metode jarak jauh atau metode daring. Hal tersebut sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19) salah satunya ada melaksanakan proses belajar mengajar secara daring/ jarak jauh.  Anak secara penuh belajar dari rumah secara daring (school from home/SCH). Kondisi demikian tidak sedikit membuat Anak mengalami kebosanan dalam belajar di rumah terutama untuk anak usia sekolah dasar, dalam usia tersebut anak-anak cenderung tidak bisa diam di rumah dan suka mengekplore untuk bermain di luar. Sehingga  Anak akan cenderung mencari aktivitas lain dalam rumah seperti menonton TV, main gadget dan aktivitas lainnya, hal demikian tentunya sangat mempengaruhi perkembangan mental anak.

Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Baik atau buruknya suatu didikan yang diberikan orang tua akan berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri, karena segala tingkah laku maupun yang muncul pada diri anak akan mencontoh kedua orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua memiliki peranan yang sangat penting bagi anaknya sendiri.

Di masa  pandemi ini peran orang tua pun menjadi berkali lipat, karena harus menjalankan tugasnya sebagai orang tua dan juga sebagai guru untuk anak-anaknya. Orang tua menjadi garda terdepan yang mengawal anak-anaknya untuk tetap belajar di rumah dan memberikan edukasi tentang apa yang sedang terjadi serta untuk tetap diam dirumah guna memutus penyebaran Covid-19.  Selain itu orang tua juga bertugas untuk memonitoring anak selama belajar dirumah dengan metode pembelajaran daring.

Dalam melakukan pembelajaran daring, anak akan lebih banyak menggunakan smartphone mereka. Orang tua harus dapat memberikan pengetahuan khusus mengenai penggunaan smartphone agar anak dapat  mengerti dampak positif dan negatif ketika seseorang sudah memiliki smartphone, orang tua juga bekewajiban untuk mengontrol dan ikut mengawasi setiap kegiatan informasi yang diterima anak melalui gawai serta ikut berinteraksi saat anak bermain gawai dengan memberikan penjelasan yang baik dan tepat. Hal tersebut juga diungkapkan oleh (CH, 2017) bahwa orangtua bertanggung jawab melakukan pengawasan dan pendampingan penggunaan gawai pada anak prasekolah, serta memastikan bahwa anak-anak menggunakan gawai untuk mengakses informasi-informasi sebagai bahan pelajarannya.

Menurut (Syarifudin, 2020) metode pembelajaran daring memiliki keunggulan dalam mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Pembelajaran daring seperti ini siswa akan mengkreasi pengetahuan yang mereka kuasai. Namun Selain memberikan dampak positif, pembelajaran daring juga membawa dampak negative bagi anak, orang tua juga harus mengetahui dampak negatif dari pembelajaran daring, yakni :

  1. Penggunaan internet atau media sosial akan memiliki sifat yang tidak sabar. Semakin cepat akses internet yang digunakan oleh penggunanya maka pengguna internet akan tidak sabar jika koneksi internternya menjadi lambat. Hal ini  dapat termanifestasi  terhadap  perilaku  anak  setiap  hari yakni  memiliki  karakteristik  yang  meyukai  hal yang  praktis  dan  enggan  berlama-lama  berkutat memecahkan
  2. Media sosial memberikan keleluasaan bagi para penggunanya untuk berfantasi secara berlebihan, hal tersebut secara psikologis sangat mengganggu khusunya untuk anak yang dipenuhi oleh rasa keingintahuan yang tinggi dan remaja yang sedang mencari jati dirinya.
  3. Anak kurang memiliki produktivitas kerja. Pengguna media digital dan teknologi yang berlebihan justru membuat produktivitas kerja anak semakin berkurang. Anak akan lebih menghabiskan waktu untuk berselancar di media sosial.
  4. Anak-anak yang menghabiskan banyak waktu di depan internet justru bertambahnya risiko obesitas, gangguan perkembangan otot saat usia pra sekolah dan gangguan stress.
  5. Penggunaan internet  jangka panjang  justru  berisiko  dapat  menyebabkan rasa  kesepian  dan    Penggunaan  internet berlebihan membuat anak tidak dapat membedakan stimulasi dunia maya dan realitas yang sering kali tidak sama. Seorang anak yang berkomunikasi dan bersosialisasi dalam jaringan sosial internet ternyata kurang mendapat umpan balik sebagaimana yang umumnya terjadi dalam interaksi atau komunikasi dalam  dunia  nyata.  Hal  ini  juga  menyebabkan seorang  anak  kurang  dapat  meningkatkan kemampuan  sosial dalam  dunia  nyata. Anak  dan remaja  yang  kemampuan  sosialnya  rendah  justru berdampak pada rendahnya kemampuan inteligensi emosi (emotional quotient).

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh ortu???

  1. Orang tua berperan sebagai guru dirumah, Selama pembelajaran daring proses interaksi guru dan murid menjadi berkurang hal ini mengakibatkan materi yang disampaikan tidak dapat dipahami secara baik. Maka orang tua harus siap memberikan pertolongan jika anak mengalami kesulitan dalam belajar
  2. Orang tua berperan sebagai fasilitator, orang tua menyediakan fasilitas pembelajaran kepada anak yaitu dengan pemberian gawai / smartphone. Orang tua harus membuat peraturan kapan dan berapa lama anak dapat menggunakan smartphone
  3. Orang tua berperan sebagai motivator,  yaitu orang tua dapat  memberikan semangat  serta dukungan  kepada  anaknya  dalam melaksanakan  pembelajaran,  sehingga  anak memiliki semangat untuk belajar. Orang tua perlu menciptakan suasana yang nyaman bagi anak dalam belajar sehingga meningkatkan semangat dan menghilangkan rasa bosan
  4. Orang tua berperan sebagai pengarah atau director. Orang tua harus dapat memberikan arahan dengan baik dan jelas kepada anak dalam menggunakan Orang tua dapat memilihkan aplikasi/ program yang positif bagi anak.
  5. Orang tua dapat mengimbangi waktu penggunaan perangkat gawai dengan interaksi di dunia nyata. Orang tua dapat mengajak anak untuk melakukan kegiatan kegiatan yang dilakukan di dunia nyata seperti pengenalan kesenian atau pun olahraga.
  6. Orang tua sebagai teladan bagi anak. Orang tua harus dapat memberikan contoh-contoh yang positif dalam menggunakan dan memanfaatkan media digital. Orang tua yang kurang bijaksana dalam menggunakan gawai cenderung akan mengabaikan anak mereka, sehingga perilaku yang dilakukan oleh orang tua secara tidak langsung dapat ditiru oleh anak.
  7. Orang tua harus sabar. Orang tua perlu tahu bahwa bahwa anak tidak harus dituntut bisa semua mata pelajaran dan tugas harus diselesaikan dengan benar. Saat anak tidak bisa mengerjakan tugas dan orang tua selalu membentak apalagi memukul, anak justru akan mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran. Sehingga orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya.

Referensi

CH, S. E. (2017). Golden Age Parenting: Memaksimalkan Potensi Anak di Usia Dini. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.

Syarifudin, A. (2020). Implementasi Pembelajaran Daring untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Sebagai Dampak Diterapkannya Social Distancing. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 5 Nomor 1 : METALINGUA.

Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19)

Orang Tua Bijak Siap Dampingi Belajar Anak Di Masa Pandemi oleh Miratun Hasanah, S.Psi., Psi

Mungkin Anda juga menyukai