Dahsyatnya Stigma bagi Kesehatan Mental Penyintas Covid-19

Oleh Dra. Sepi Indriati, Psi
(Psikolog Klinis RSJD Surakarta)

Isolasi mandiri selama 14 hari di gedung yang sudah disediakan oleh pemerintah desa, telah dijalani Ibu A yang terkonfirmasi positif namun tidak bergejala . Ibu A telah menjalani isolasi dengan penuh kesadaran agar tidak menyebarkan virus kepada keluarga  dan lingkungannya. Tidak ada kendala yang dirasakan,   selama masa isolasi banyak dukungan yang didapat. Masalah makanan selalu ada bahkan   agak berlebih, suplemen dan sejenisnya tersedia bahkan aktifitas setiap hari ada yang memantau dan ada petugas kesehatan yang menemani berolah raga dan berjemur setiap pagi.   Secara spiritual lebih meningkat intensitas ibadahnya,   lebih khusu’.   Akhirnya dari  tes PCR ulang  dinyatakan negatif. Perasaan sangat lega dan bahagia, Ia pulang ke rumah   yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat isolasi. Setelah di rumah beberapa tetangga dan teman-temannya berkunjung untuk ‘mangayubagyo’ kepulangannya.  Namun ada tetangga yang sehari-hari sangat dekat dan anaknya juga selalu ‘runtang-runtung’ dengan anaknya   di rumahnya, justru menjauhi dan menunjukkan sikap yang tidak ‘wellcome’ dengan kepulangannya. Bahkan anaknya juga dilarang bermain bersama. Sikap tetangga yang seperti ini sangat mengganggu perasaannya. Muncul perasaan sedih, kecewa, jengkel dan tidak berharga, bahkan terbersit pikiran untuk keluar dari lingkungannya untuk sementara waktu agar tidak melihat sikap-sikap yang tidak bersahabat dan ‘memojokkan’ dirinya dan keluarganya.

Bagaimana harus menghadapi stigma? Simak selengkapnya dengan unduh artikel pada tombol unduh di bawah ini.

Mungkin Anda juga menyukai