MEMANFAATKAN MEDSOS UNTUK MENGIKIS STIGMA ODGJ oleh Dra. Sepi Indriati, Psikolog

MEMANFAATKAN MEDSOS UNTUK MENGIKIS STIGMA ODGJ

Dra. Sepi Indriati, Psikolog

Saat ini hampir semua institusi   memiliki akun media sosial yang digunakan  untuk menginformasikan dan mempromosikan  berbagai produk atau pelayanan dan kegiatannya kepada publik. Tidak terkecuali institusi yang bergerak dibidang kesehatan jiwa, yang notabene masih melekat stigma yang kuat didalamnya.

Kebutuhan akan informasi kesehatan yang akurat dan terkini semakin dibutuhkan seiring perkembangan teknologi informasi. Pemanfaatan media sosial   menjadi salah satu upaya efektif untuk meningkatkan dukungan dan promosi kesehatan jiwa. Sasaran promosi kesehatan dapat diarahkan pada pengguna sosial media di semua kelompok umur. Tenaga medis dapat menggunakan media digital, pesan singkat, leaflet, komik, maupun video sehingga memudahkan masyarakat memahami gangguan jiwa, seperti depresi, gangguan bipolar, gangguan psikotik, dan sebagainya.

Hasil Penelusuran mengungkapkan media sosial berkontribusi positif terhadap upaya promosi kesehatan, namun ada beberapa kelemahan seperti : kurangnya penjangkauan terhadap audien pasif, informasi palsu dan tidak akurat, kurangnya interaksi dengan audien, keterbatasan kemampuan profesional kesehatan memanfaatkan media sosial sehingga tidak menjamin keberlanjutan program. Profesional bidang kesehatan perlu merancang model promosi kesehatan berbasis media sosial dengan mengintegrasikan media sosial dengan strategi promosi kesehatan serta strategi komunikasi kesehatan. Media sosial juga dapat memfasilitasi interaksi sosial masyarakat, menghubungkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan jejaring pelayanan kesehatan jiwa, dan memperluas upaya promosi kesehatan.  Media sosial telah menunjukkan perannya dalam upaya promosi kesehatan di dunia.

Survei yang dilakukan oleh Glick et al terhadap 100 pasien dengan gangguan jiwa yang serius melaporkan bahwa 85% peserta memiliki telepon genggam. Selain itu, survei lain oleh Brunette et al terhadap 403 pasien dengan gangguan jiwa yang serius melaporkan bahwa 65,8% menggunakan smartphone, 53,6% mengakses internet melalui komputer atau tablet, dan sekitar 67,9% menggunakan media sosial. Proporsi ODGJ pengguna media sosial dilaporkan terus meningkat sejak tahun 2017.

STIGMA

Pengalaman di balik ruang praktik terkait masalah kesehatan jiwa:   Seorang pasien yang masih remaja dengan sadar dan sabar berkonsultasi tentang masalah kejiwaan yang dirasa mengganggu. Hal itu justru sangat ditentang oleh keluarga karena anggapan bahwa sumber masalah karena kurang ibadah dan  kurang rasa syukur dari pasien tersebut sehingga singkat cerita keluarga membuang obat dari dokter. Untungnya kejadian tersebut tidak membuatnya menciut, ia kembali lagi berkonsultasi dan mendapatkan solusi yakni perlunya mencari dukungan dari sahabat/orang dekat diluar keluarga.

Kejadian tersebut membuktikan bahwa stigma tentang masalah kejiwaan di masyarakat masih sangat kuat bahkan sampai saat ini. Sangat tepat ketika berbicara tentang gangguan kejiwaan, kita tidak bisa sendirian, butuh sistem yang terintegrasi karena ini merupakan sesuatu yang complicated.

Tidak sedikit berita dari fenomena kejadian  di masyarakat apabila digali lebih dalam  latar belakang dan dinamikanya serta apabila dikupas lebih jauh, banyak  peristiwa yang terjadi bermuara pada  permasalahan kesehatan jiwa seseorang. Dengan demikian tidak hanya  institusi di bidang kesehatan jiwa,  psikiater, dokter, psikolog yang  bertanggung jawab terkait masalah kesehatan jiwa di masyarakat, tetapi harus dilihat secara komprehensif dari berbagai sudut pandang yang terkait didalamnya.

Stigma pada orang dengan  gangguan kejiwaan adalah realitas, sesuatu yang nyata dan ditemui setiap hari di tengah masyarakat. Kenyataaan  muncul di sebagian besar  lapisan masyarakat tidak hanya masyarakat awam, bahkan dalam kalangan medis pun masih ada yang menganggap  sebagai stigma.

Selama ini, ada beberapa mitos gangguan kejiwaan yang akhirnya menjadi stigma, diantaranya orang yang memiliki gangguan kejiwaan adalah orang yang pribadinya lemah, kurang ibadah, mengganggu  dan risiko melakukan kekerasan, orang yang memiliki gangguan jiwa harus minum obat seumur hidup,  karena kemasukan jin atau mereka hanya pura-pura.

Stigma tersebut menjadi hal penting untuk dibahas. Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 800 orang meninggal setiap tahunnya atau sekitar 1 orang setiap 40 detik karena bunuh diri. Kemudian dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, menunjukkan bahwa 7 dari 1.000 rumah tangga terdapat anggota keluarga dengan psikosis/skizofrenia, lebih dari 19 juta penduduk usia di atas 15 tahun terkena gangguan mental emosional, dan lain sebagainya.

Adapun beberapa faktor mengenai stigma gangguan jiwa yakni, gila adalah aib, mitos gangguan jiwa, kurangnya pengetahuan tentang gangguan jiwa, tidak ada dukungan keluarga, dan perasaan malu. Kurangnya pengetahuan   serta pola pikir  negatif masyarakat yang beranggapan bahwa ODGJ dapat membahayakan sehingga harus diperlakukan dengan kasar merupakan salah satu faktor ODGJ mendapatkan penolakan dari   dilingkungannya. Penolakan   tersebut dapat berupa kekerasan verbal, kekerasan   fisik dan bahkan pemberian stigma seperti stereotif dan deskriminasi. Stigmatisasi yang  dialami oleh ODGJ   cenderung sering mendapatkan diskriminasi dan sterotif dalam kehidupan keluarga dan pribadinya.

Stigma yang   berkembang di masyarakat   dapat menyebabkan dampak yang merugikan bagi mereka yang terkena label stigma tersebut.   ODGJ yang mengalami label atau cap stigma dimasyarakat akan   sulit untuk berinteraksi dan melakukan kegiatan dilingkungannya, dimana masyarakat cenderung memperlakukan ODGJ sebagai seseorang yang aneh, menakutkan dan harus dihindari, bahkan menolak keberadaan ODGJ,  diskriminasi  tampak lebih jelas dimasyarakat.   Akibatnya  banyak  ODGJ yang di beri label negatif oleh masyarakat memiliki hasrat untuk melakukan bunuh diri karena  faktor stigma tersebut. (Purnama,dkk 2016). Dampak lain yang cukup mendasar bagi ODGJ seperti menurunnya harga diri dan kepercayaan diri, menarik  diri dari pergaulan yang akhirnya enggan mencari informasi yang benar, terisolasi secara sosial sehingga bisa meningkatkan beban pikiran dan perasaan, bahkan dianggap tidak layak menerima pendidikan dan pekerjaan.

Beberapa perlakuan keluarga dan masyarakat yang tidak bersahabat seringkali membatasi ODGJ untuk mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya. Sementara dukungan sosial dan keterlibatan seseorang dalam kegiatan  di masyarakat dapat meningkatkan harga diri, perasaan diakui dan perasaan berdaya sehingga berpengaruh pada kualitas hidup dan kesehatan mental seseorang. Untuk itu mengapa, stigma yang diberikan oleh masyarakat sangat   berpengaruh dalam proses penyembuhan bagi seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan dan harus dihapuskan dari   Indonesia, karena bertentangan dengan hak asasi manusia dan berdampak bagi munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi dan keamanan dimasyarakat. (Kemenkes RI, 2014).

Stigma negatif yang diberikan oleh masyarakat kepada ODGJ harus dihilangkan secara permanen dari lingkungan masyarakat itu sendiri. Sebab, apabila stigma negatif tersebut masih melekat di  masyarakat dan memberi lebel negatif, orang yang mendapatkannya akan semakin buruk keadaannya (Purnama,dkk,2016)

Bagaimana menangani stigma dimasyarakat?

Edukasi dan pemberian informasi yang benar kepada masyarakat adalah kunci utama. Informasi tentang gangguan jiwa, edukasi kapada   keluarga dan masyarakat tentang bagaimana  cara hidup dan berdampingan dengan orang yang memiliki gangguan jiwa, pemberdayaan organisasi sosial peduli ODGJ yang ada di masyarakat dan keluarganya, kampanye publik tentang kesehatan jiwa secara simultan, peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan jiwa, serta advokasi pada penentu kebijakan.

Upaya promosi kesehatan jiwa melalui media sosial, tatap muka, atau melalui media tulis yang dapat dilakukan oleh tenaga medis kepada masyarakat diantaranya dengan cara sebagai berikut:

  1. Memotivasi  ODGJ untuk menyampaikan kondisi yang dialami pada orang terdekat dikenal, misalnya keluarga, teman,  ataupun orang lain yang dipercaya
  2. Memotivasi komunitas untuk menambah pengetahuan  tentang gangguan jiwa, termasuk pada populasi rentan seperti anak dan orang lanjut usia
  3. Pemberian informasi di media sosial dan media komunikasi lain tentang layanan kesehatan jiwa profesional yang terdekat  yang mudah diakses dan  sesuai dengan kebutuhan pasien
  4. Mengajak masyarakat untuk turut menjadi relawan kesehatan jiwa dan peduli pada ODGJ  sehingga masyarakat dapat memahami ODGJ lebih baik
  5. Mendorong masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat seimbang sebagai menyokong kesehatan jiwa yang lebih baik
  6. Mendorong para tenaga medis dan tenaga kesehatan melakukan promosi kesehatan jiwa dan memberikan  edukasi  melalui media sosial dengan memanfaatkan konten-konten yang populer di masyarakat, yang bisa menjangkau semua segmen usia.
  7. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana dalam menyampaikan informasi dan memberikan edukasi oleh para tenaga kesehatan di lingkungan kesehatan jiwa. Informasi dan tips sederhana, ringkas dan mudah dipahami bisa diberikan melalui media sosial yang populer di gunakan masyarakat seperti  Whatsap, facebook, Tik-Tok, Instragram, youtube

Pemanfaatan media sosial dengan bijak dapat menjadi suatu opsi untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan jiwa. Hal ini didasarkan pada hasil beberapa survei yang menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa pun memiliki akses terhadap gadget dan media sosial dengan proporsi yang cukup tinggi.

Bangkit Indonesiaku, Sehat negeriku

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunette MF, Achtyes E, Pratt S, et al. Use of Smartphones, Computers and Social Media Among People with SMI: Opportunity for Intervention. Community Ment Health J. 2019 Aug;55(6):973-978. doi: 10.1007/s10597-019-00431-7
  2. Glick G, Druss B, Pina J, et al. Use of mobile technology in a community mental health setting. J Telemed Telecare. 2016 Oct;22(7):430-5. doi: 10.1177/1357633X15613236
  3. https://journal.ppnijateng.org/index.php/jpi/article/download/705/pdf. gambaran stigma masyarakat terhadap klien gangguan jiwa di rw 09 desa cileles sumedang

Mungkin Anda juga menyukai