Ayah, Aku Butuh Figurmu !!

“teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja.. indahnya saat itu buatku melambung disisimu terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu…”
Begitulah sepenggal lirik lagu yang mungkin pernah kita dengar. Content lagu tersebut mengingatkan kita betapa besarnya ikatan seorang anak pada figure ayahnya. Bahkan saya pernah mendapati seseorang yang hanya mendengar lagu tentang ayah atau bercerita tentang ayahny, sampai-sampai berlinangan air matanya.
Dalam konteks keluarga, mendidik dan mengasuh anak bukanlah semata tugas seorang ibu melainkan merupakan tugas kedua orang tua. Kenyataan di lapangan tidak jarang kita menemukan suatu kondisi dimana seorang ayah yang terlalu fokus pada tugasnya sebagai pencari nafkah keluarga, membuat tugas penting lainnya jadi terabaikan, padahal peran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
Ibu berperan dalam mengajarkan anak tentang bagaimana bersifat lebih lembut dan penuh kasih sayang. Sementara itu, ayah lebih menitikberatkan pada kompetensi dan kekuatan. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa ibu dan ayah memiliki perannya masing-masing yang berguna untuk anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki.
Anak dengan ayah yang terlibat dalam pengasuhannya akan lebih percaya diri, disiplin, dan lebih bisa berkata ‘tidak’. Hal tersebut karena ayah memiliki kekuatan untuk memimpin sehingga anak akan menjadi lebih terkendalikan. Lain halnya ketika kurang adanya peran ayah akan berdampak buruk bagi anak. Beberapa penelitian mengenai fatherless home (rumah tanpa ayah) di Amerika menunjukkan bahwa remaja yang memiliki masalah tingkah laku, pelaku pemerkosaan, hingga perundungan kurang merasakan peran ayah sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.
`Selain itu bagi anak laki-laki, figur ayah adalah sebagai objek identifikasi. Kehadiran ayah akan menjadi teladan atau contoh baginya. Jadi seorang anak laki-laki bisa berperan, berpenampilan layaknya laki-laki. Sementara bagi anak perempuan seorang figur ayah akan menjadi objek persepsinya tentang seorang laki-laki. Apabila ayah berperan baik maka anak perempuan akan mempersepsi positif tentang seorang laki-laki.
Selain itu berbagai riset yang telah dilakukan mengerucut pada satu kesimpulan yang sama, yaitu: Anak-anak dengan ayah yang lebih terlibat dalam pengasuhan menunjukkan kelebihan dalam aspek sosial dan akademis, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dekat dengan ayahnya. Anak-anak dengan ayah yang meluangkan waktu untuk menanyakan tentang apa yang mereka pelajari di sekolah, menanyakan aktivitas mereka sehari-hari, dan menanyakan hubungan sosial mereka dengan lingkungannya menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki hubungan tersebut dengan ayahnya.
Fenomena fatherless ini sebenarnya bisa diminimalisir dengan berbagai langkah sehingga ayah mampu membersamai di setiap tumbuh kembang anaknya. Bagaimanakah langkah yang bisa dilakukan agar ayah tetap berperan dalam pengasuhan anak walaupun ia banyak menghabiskan waktu untuk bekerja?. Langkah awal yang bisa ayah lalukan adalah :
- Dengan menghubungi anak via telpon atau video call pada saat jam istirahat setelah sholat, cukup beberapa menit saja. kondisi demikian membuat anak merasa dihargai dan diperhatikan sehingga terbentu kelekatan
- Melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama anak saat weekend, misalnya mencuci sepeda, motor atau mobil bersama, olahraga, menemani bermain anak terlebih anak balita dimana permainan terbaik adalah tubuh orang tuanya, rekreasi bersama, memancing, berkebun dan masih banyak lagi aktivita seru lainnya.
- Membaca buku bersama anak, menceritakan dongeng, fable, dan lain lain dimana aktivitas ini akan terjadi banyak interaksi dan komunikasi.
Lalu, bagaimana jika sang ayah sudah meninggal dunia? Atau mengalami perceraian? Apabila ayah meninggal dunia, sebaiknya anak dicarikan figur ayah pengganti. Figur pengganti tersebut bisa kakek, atau paman. Sementara apabila mengalami perceraian bukan berarti ayah lepas dari tanggungjawab dari perannya. Mengingat tidak ada kamus yang mengatakan “mantan ayah atau mantan anak” sehingga hubungan antara anak dan ayah tetap harus ada interaksi dan komunikasi, walaupun kedua orang tua harus berpisah.
“Peran ayah dan ibu sama-sama penting bagi anak sehingga ayah dan ibu perlu bekerja sama dalam mengasuh anak. Untuk para ayah cobalah sejenak luangkan waktu untuk anak. Peluklah dia, ajaklah mereka bercerita, bercanda, sisipkan kalimat-kalimat positif untuknya agar selalu terekam dalam memorinya tentang kenangan bersama ayah hingga ketika anak tumbuh dewasa ia akan bangga bila bercerita tentang sosok ayahnya”.
Putri Mega, M.Psi.,Psikolog























